Dari Sahabat..



abang

            “ngapain lo masuk2 kamar gue”
tiba2 dion muncul dari balik pintu dengan nada tinggi, begitu tau dinda adik tirinya masuk tanpa ijin, padahal mereka sudah tinggal satu rumah selama 8 tahun.
            “maaf, gue Cuma mau nyampein kalo makan malam udah siap”
dinda pun buru2 pergi dari kamar itu. Selama ini hubungan ke2 saudara tiri ini memang tidak pernah akur, apalagi dengan dion , dia bahkan tidak pernah menganggap kalau dinda dan ayahnya itu ada. Kalau dinda sendiri malah sebaliknya dia lebih dewasa dan menerima dengan senang hati ibu barunya itu. Semua ini berawal dari 8 tahun lalu, mama dion menikah dengan ayahnya dinda,  sebenarnya dion tidak pernah setuju dengan pernikahan ini. Saat itu dion dan dinda sama2 duduk di bangku 5sd, mengingat mereka ini sebaya mulai smp mereka selalu di sekolahkan di sekolah yang sama. Sampai sekarang ini, mereka duduk di bangku kelas 2 sma.
Berhubung kedua ortu mereka sedang keluar kota, semua urusan rumah dinda dan bik ani yang mengurusi, dinda itu anak yang rajin kadang kalau bik ani sedabg sakit semua urusan beres ditangan dinda.
            “bang,gue mau naruh cucian ni”
 teriak dinda dari balik pintu kamar rio, dengan buru2 rio membuka pintu dan memandang sinis kea rah dinda
            “ lo taro mana celana jeans gue!”
pagi2 dion sudah menanyakan celana jeans nya,
            “jeans lo gue cuci, lagian udah kumel banget, tuh masih di mesin cuci”
jawab dinda polos
            “APA!!!! LO CUCI!!! Kapan gue pernah nyuruh lo nyuci  tu jeans lo gak tau apa disana ada hal penting dan lo berhasil ngrusak semua” dion marah besar , kertas hasil desain nya hancur tercuci.
            “ lo tu Cuma bawa masalah buat hidup gue!!!!” teriak dion tepat di hadapan dinda. Kalimat terakhir itu membuat dinda terpaku, bahkan tetesan airmata nya pun tak terbendunglagi dan meluncur deras membanjiri pipinya. Dadanya terasa sesak, dan semakin ssak setiap kali dia ingat dion mengucapkan kalimat itu. “sebesar itukah lo benci sama gue”
suaranya bergetar menahan isakan.dan dion hanya berlalu meninggalkan dinda tanpa sepatah kata pun. Pagi itu untuk pertamakalinya dion berangkat sekolah tanpa dinda.
Di sekolah, dinda masih mematung dikelas teman2nya dibuat bingung dengan tingkahnya ini. “dinda, ngomong dong, cerita sama kita” bujuk temannya
            “ apa lo lagi berantem ya sama sama abang lo” dinda langsung menoleh kearah suara, dengan mata sembab dia mengangguk pelan dan langsung memeluk sahabatnya itu.
            “gue lagi pengen sendiri, sory” kemudian dia beranjak dari kursunya dan pergi menuju perpustakaan disanalah dia bias menenangkan diri.
Keesokan harinya. “Kriiiinggggg.. . . .kriiiingggg. . . . .kriiingggg” suara jam weker dikamar dion tiba2 berbunyi, seketika dion terbangun.
            “perasaan gue gak punya jam weker deh” dan jarum jam menukjuk angka 06.30 “APA!!! Gue telat” dion langsung meloncat ke kamar mandi sambil memaki2 dinda yang tidak membangunkannya pagi ini tapi malah memasang jam weker.
             “baju gue mana nie, dindaaaaa. . . . “ teriak dion memanggil adiknya  tapi tak ada jawaban. Dion menemukan bajunya masih lusuh belum tersetrika,
“mampus. .. . . mana bik ani lagi libur lagi’ dengan terpaksa dion menyetrikanya sendiri. Setelah itu dia lari ke ruang makan, kaliini gak ada segelas susu, roti atau nasi goreng di meja.
            “mana sarapan nya?????” “dindaaaaaaa  . . . . .” bisa dipastikan dinda telah duluan berangkat sekolah. Keanehan2 itu membuat dion bertanya2 apa yang sebenarnya sedang terjadi. “dia gak bangunin gue, gak buat sarapan, dan sekarang dia berangkat duluan” dan tak diragukan dionpun telat 45 menit.
Saat jam istirahat, dion memasang matanya memburu dinda. Setelah cukup lama menunggu akhirnya dinda muncul di hadapannya,
            “gue pengen ngomong sesuatu sama lo” tarik dion memojokkan adiknya ,
            “apa si, lepas” dinda melepaskan cengkraman dion penuh emosi.
            “lo kena si, gara2 lo gak buat sarapan, magg gue bias kambuh tau”,
             “iya, gue tau trus kenapa?” jawab dinda ketus
            “kenapa ? lo tu yang kenapa” tunjuk dion. Dinda pun diam dan kabur.
            “ apa maksudnya si”

Dan keanehan2 itu pun derlangsung hari demi hari dan mulai memasuki hari ke6, kali ini dion sudah tak tahan lagi. Sebenarnya dia mulai terbiasa bangun sendiri tapi untuk urusan yang lain dia masih kerepotan.
            “lo bareng gue hari ini” dion menarik dinda memaksa, tapi tetap dengan nada dingin nya.
            “gue gak mau” dinda mengibaskan cengkraman dion
            “ udah deh lo tu Cuma buat masalah aja tau”,
            “kenapa lo harus peduli, udah sana berangkat gue bias sendiri” akhirnya hari itu dinda tetap berangkat sendiri. Dion terdiam, untuk sesaat dia tak percaya bahwa yang barusaja itu dinda.
Kantin sekolah, dion sedang asik menggosip dengan teman2nya.sampai kemudian tiba2 datang seseorang
            “halo dion” sapa aji,
dia ini bagaikan musuh buat dion, mereka memang tak pernah akur. Berita terakhir mereka tanding basket dengan taruhan yang kalah harus memenuhi permintaan sang pemenang. Dan sialnya dion dkk kalah, kedatangan aji sendiri untuk menagih taruhannya.
            “apa yang lo mau?” jawab dion. “apa lo bakalan nurutin semua permintaan   gue ini?” lirik aji sinis.
            “ gue ini laki2 sejati, dan gue gak akan lupa sama janji gue sendiri” jawab dion pede.
            “gue Cuma mau dinda, buat…”
             “BUUkkkkk” belum selesai kalimat yang aji katakana dion sudah memotongnya dengan sebuah tinjuan dan mendarat tepat di hidung mancung aji. Darah pun mengalir deras.
            “gue bisa ngasih apaun buat lo tapi bukan dinda, ngerti lo . . .” ancam dion,
            ”heeh peduli apa lo sama dinda, bukannya dia Cuma saudara tiri ya” aji menyeringai sambil menahan sakit,
            “jangan pernah lo berani deketin adik gue, kalau lo nekat lo akan tau akibatnay”  dion pun bergegas pergi sebelum emosinya makin meluap.

2 jam dion menunggu dinda pulang di depan gerbang  karena ada hal penting yang mau dia bicarakan, tapi dari tadi gak nongol2 juga. Padahal sekolah sudah sepi. Dion pun pulang dan menunggu dinda di rumah. Hari semakin larut bahkan diluar mulai gerimis, kali ini dion merasa khawatir. Dinda belum juga pulang , sekarang sudah jam 5 lebih.
            “ lo kemana si din, masalah aja” tiba2 dia teringat pada kejadin dimana dia pernah mengatakan hal yang sama. “gak, gak mungkin gara2 kejadian itu dia jadi kaya gini” rasa khawatirnya ini semakin besar, dan gerimis diluar juga berubah menjadi hujan besar.
 “tut,tut,tut,” 1 pasan diterima dari ‘dinda’ :
                         bang jemput gue di halte kompleks, kritis’
 seketika itu dion langsung berlari sambil menyambar sebuah payung. Dari kejauhan terlihat dinda sedang berjalan menggigl kedinginan buru2 dion menghampirinya,

            “dinda . . . .dari mana aja lo? Lo tau ini jam berapa, katanya di halte kenapa lo malah hujan2an!!!!” teriak dion karena suara hujan yang gemuruh membuat dion harus sedikit menaikkan nada suaranya.

            “gue fikir lo gak akan jemput gue” jawab dinda yang ini dengan suara mengigil.
            “terus kenapa lo baru pulang?” teriak dion lagi,
            “gue tadi les,terus dijemput sama aji katanya lo gak bias jemput,  sampai di jalan dia mau kurang ajar sama gue, terus gue kabur” jelas dinda panjang lebar.
            “ bodoh kenapa gue lupa kalau lo les”
            dion menepuk jidatnya dendiri. Dan tiba2 dion mendekat dan memeluk tubuh dinda yang menggigil, payung di genggamannya terjatuh membuat kedua saudara ini terguyur air hujan.
            “maafin gue dek, gue emang bukan abang yang baik, sory kalau gue selalu kasar sama lo” pelukan dion semakin erat,
            “udah bang gue udah maafin lo dari jauh2 hari tau, sekarang kenapa tuh paying lo lepas”  dinda mencubit perut dion
             “aduh.. . .maaf” sambil nyengir. 
            “sini gue gendong biar cepet sampai rumah, nanti malah masuk angin lagi” segera dinda melompat ke punggung abangnya.
            “makasih ya bang, ternyata lo punya sisih perhatian juga ya” goda dinda,
            “gue mau berubah buat lo dek”

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

EXPLANATION TEXT

you are the apple of my eye

DISCUSSION TEXT