Jogja Butuh Bandara Baru (NYIA)?
Ya.. Jogja atau Yogyakarta atau Daerah Istimewa Yogyakarta memang membutuhkan Bandara baru dikarenakan beberapa alasan Bandara Adi Sutjipto yang kurang memadahi untuk menjadi Bandara Internasional. Namun apakah harus di lahan yang sbubur? Yang padat penduduk? Yang sebagian mata pencahariannya adalah bertani dan berkebun?
Sejak tahun 2012 isu pembangunan Bandara di Kulon Progo sudah beredar. Warga terdampak pun tetap mempertahankan tanahnya walaupun ada beberapa yang sudah sepakat untuk direlokasi.
Saya disini akan menulis dengan apa adanya.. selama mengamati lokasi secara langsung. Karena banyak artikel yang entah kenapa menutupi maslaah ini dan lebih membungkus dengan kebaikan pihak Angkasa Pura yang akan mendirikan Bandara New Yogyakarta International Airport (NYIA).
Saya bertemu langsung dengan beberapa warga yang masih bertahan disana. Pertama kali saya menginjakkan kaki di lokasi, saya menangis karena betapa tidak manusiawi cara mereka untuk "deal" dengan warga.
Dari sisi pihak "mereka", Jogja membutuhkan bandara dan itu merupakan kepentingan masyarakat bersama. Para warga yang dianggap ngeyel bertahan, dibiarkan dan proyek tetap berjalan. Sebisa mungkin Bandara selesai sesuai target dan dapat beroperasi seperti yang direncanakan. Untuk hal-hal yang mengganggu, sebisa mungkin mereka bereskan dan rapihkan.Investor yang sudah siap mendukung pembangunan NYIA dipertahankan. Pihak warga diganti rugi.
Dari pihak warga, Tidak seharusnya Bandara dibangun di tanah yang subur, desa yang padat dan sebagian besar mata pencaharian penduduknya adalah bertani dan berkebun. Bagi penduduk yang tani dan kebun, mereka akan kehilangan sumber penghidupannya yang bisa mereka nikmati sampai kapanpun. Mereka memilih bertani dan berkebun karena itu yang mereka bisa. Ketika itu akan diganti rugi, mereka tidak mungkin memiliki tanah sawah untuk digarap karena tanah kini semakin mahal. Uang ganti rugi untuk relokasi juga tidak seberapa. Mereka akan mendapatkan ratusan juta dengan hilang sekejap karena habis untuk membangun rumah dimana mereka harus membayar sendiri dengan uang hasil "deal" relokasi. Selain itu, warga memang mempertahankan karena ruang hidup. Tidak dipungkiri akan semakin luas pembangunan yang terjadi di Kulonprogo dan semakin sempit ruang hidup. Adanya NYIA pasti akan disusul dengan pembangunan hotel, resort, caffe dan tempat hiburan lainnya. Bagi warga yang tidak bertani pasti mereka tidak merasa terdampak dan akan setuju direlokasi. Atau bahkan warga yang sudah tidak ingin memperjuangkan, lelah, akhirnya mereka terima dan menandatangani persetujuan relokasi. Warga yang kini masih dianggap aman, akan merasakan berbagai dampak nantinya.
Penolakan dari warga sudah sejak awal, namun Angkasa Pura tetap menjalankan proyek. Makam kini sudah beberapa direlokasi. Masjid diusahakan rata. Yang paling mengenaskan adalah Sekolah terutama SD N 3 Glagah. Suatu pagi ketika anak-anak sekolah bernagkat ke SD, ternyata sampai di lokasi mereka sudah tidak melihat sekolah mereka lagi.. Sekolah mereka sudah rata. Penggusuran itu tidak sesuai dengan keadaan sekolah yagn masih UAS dan menjelang UN. Setelah digusur, SD N 3 Glagah hanya dipindah ke 1 rumah yang dikontrak. Bila dilihat dari sisi SNP Pendidikan, ini sungguh tidak sesuai. Psikis anak pun pasti down. Tempat bermain mereka di desa dan sekolah kini sudah tiada. Tersisa sedikit untuk dipertahankan.
Angkasa Pura membiarkan warga bertahan dengan tetap menjalankan proyeknya. Pihak Angkasa Pura tidak diterima dikatanan ini penggusuran karna mereka klaim mereka menang atas hak tanah di pengadilan. Padahal pun warga tak pernah menyetujuinnya. Dengan paksa mereka menyingkirkan warga dengan cara pengggusuran, mereka memutus listrik dan juga menggali jalan disekeliling rumah warga bertahan. Warga dibiarkan tetapi diberlakukan agar tidak nyaman. Namun perjuangan warga tidak semudah itu menyerah..
Entah mengapa hal-hal ini tidak muncul ke media sehingga banyak warga yang tidak tahu.
Semoga memang warga dan relawan diberikan yang terbaik..
Berikut beberapa video di Temon, Kulonprogo
Sejak tahun 2012 isu pembangunan Bandara di Kulon Progo sudah beredar. Warga terdampak pun tetap mempertahankan tanahnya walaupun ada beberapa yang sudah sepakat untuk direlokasi.
Saya disini akan menulis dengan apa adanya.. selama mengamati lokasi secara langsung. Karena banyak artikel yang entah kenapa menutupi maslaah ini dan lebih membungkus dengan kebaikan pihak Angkasa Pura yang akan mendirikan Bandara New Yogyakarta International Airport (NYIA).
Saya bertemu langsung dengan beberapa warga yang masih bertahan disana. Pertama kali saya menginjakkan kaki di lokasi, saya menangis karena betapa tidak manusiawi cara mereka untuk "deal" dengan warga.
Dari sisi pihak "mereka", Jogja membutuhkan bandara dan itu merupakan kepentingan masyarakat bersama. Para warga yang dianggap ngeyel bertahan, dibiarkan dan proyek tetap berjalan. Sebisa mungkin Bandara selesai sesuai target dan dapat beroperasi seperti yang direncanakan. Untuk hal-hal yang mengganggu, sebisa mungkin mereka bereskan dan rapihkan.Investor yang sudah siap mendukung pembangunan NYIA dipertahankan. Pihak warga diganti rugi.
Dari pihak warga, Tidak seharusnya Bandara dibangun di tanah yang subur, desa yang padat dan sebagian besar mata pencaharian penduduknya adalah bertani dan berkebun. Bagi penduduk yang tani dan kebun, mereka akan kehilangan sumber penghidupannya yang bisa mereka nikmati sampai kapanpun. Mereka memilih bertani dan berkebun karena itu yang mereka bisa. Ketika itu akan diganti rugi, mereka tidak mungkin memiliki tanah sawah untuk digarap karena tanah kini semakin mahal. Uang ganti rugi untuk relokasi juga tidak seberapa. Mereka akan mendapatkan ratusan juta dengan hilang sekejap karena habis untuk membangun rumah dimana mereka harus membayar sendiri dengan uang hasil "deal" relokasi. Selain itu, warga memang mempertahankan karena ruang hidup. Tidak dipungkiri akan semakin luas pembangunan yang terjadi di Kulonprogo dan semakin sempit ruang hidup. Adanya NYIA pasti akan disusul dengan pembangunan hotel, resort, caffe dan tempat hiburan lainnya. Bagi warga yang tidak bertani pasti mereka tidak merasa terdampak dan akan setuju direlokasi. Atau bahkan warga yang sudah tidak ingin memperjuangkan, lelah, akhirnya mereka terima dan menandatangani persetujuan relokasi. Warga yang kini masih dianggap aman, akan merasakan berbagai dampak nantinya.
Penolakan dari warga sudah sejak awal, namun Angkasa Pura tetap menjalankan proyek. Makam kini sudah beberapa direlokasi. Masjid diusahakan rata. Yang paling mengenaskan adalah Sekolah terutama SD N 3 Glagah. Suatu pagi ketika anak-anak sekolah bernagkat ke SD, ternyata sampai di lokasi mereka sudah tidak melihat sekolah mereka lagi.. Sekolah mereka sudah rata. Penggusuran itu tidak sesuai dengan keadaan sekolah yagn masih UAS dan menjelang UN. Setelah digusur, SD N 3 Glagah hanya dipindah ke 1 rumah yang dikontrak. Bila dilihat dari sisi SNP Pendidikan, ini sungguh tidak sesuai. Psikis anak pun pasti down. Tempat bermain mereka di desa dan sekolah kini sudah tiada. Tersisa sedikit untuk dipertahankan.
Angkasa Pura membiarkan warga bertahan dengan tetap menjalankan proyeknya. Pihak Angkasa Pura tidak diterima dikatanan ini penggusuran karna mereka klaim mereka menang atas hak tanah di pengadilan. Padahal pun warga tak pernah menyetujuinnya. Dengan paksa mereka menyingkirkan warga dengan cara pengggusuran, mereka memutus listrik dan juga menggali jalan disekeliling rumah warga bertahan. Warga dibiarkan tetapi diberlakukan agar tidak nyaman. Namun perjuangan warga tidak semudah itu menyerah..
Entah mengapa hal-hal ini tidak muncul ke media sehingga banyak warga yang tidak tahu.
Semoga memang warga dan relawan diberikan yang terbaik..
Berikut beberapa video di Temon, Kulonprogo
Komentar
Posting Komentar