RAJUTAN CERBUNGKU
KELABU “Kelabu, apa kau merasa masih enggan bercerita lagi padaku?” Ku hentikan kakiku yang membuat pusaran pada lantai rumah Tuan Arkan. Ia sangat mengenaliku bagaima ketika ku memikirkan banyak hal yang tak tersampaikan. “Sejak kejadian itu, kau terlihat murung. Maafkan aku Kelabu.” “Tak apa Tuan. Sungguh.. aku tak inginkan apapun saat ini.“ Senyumku kelu. Hanya membatin beribu maaf dan rsasa bersalah. Sebenarnya aku pun tak tahu bersalah ini bertuan kepada siapa. Hanya saja tidak nyaman dengan membawa segala perasaan ini kemana pun ku berada. “Tuan, mengapa tidak istirahat lebih awal? Sepertinya anda terlilah lelah.” “Tak apa Kelabu, aku menunggumu terlelap saja.” “Untuk apa Tuanku?” “Dulu aku sering acuhkan keadaanmu yang selalu menjaga tidurku. Kau selalu menjagaku agar tetap hangat dengan menyelimuti badanku, menjagaku agar tetap tenang dan memungkinkan tidurku nyenyak hingga fajar datang. Aku selalu mementingkan diriku sendiri. Sungguh aku tak ingin mengulan...