MUKADIMAH CERBUNGKU
Teruntuk Para Jasad Bernyawa
Dari Imajinasi yang Bernyawa
Selamat datang dalam dunia mendekati fana'
Selamat membaca untaian kalimat sederhana
Untaian yang kan selalu bersambung hingga sang pemilik ide tak mampu berkata
∞
KELABU
Bersabarlah hati.. kau sudah tak
dapat menggapainya lagi. Tunggu saja siapa yang akan menyambut tanganmu untuk
mengangkatmu kembali.
Semburat mega langit sore di atas
Danau Putih. Aku hanya dapat duduk termangu dan melantunkan senandung yang ku
rindukan. Air yang tenang, angin yang bersahabat, selalu berhasil membawaku
dalam sendu tak berhujung. Disini pertama kali ku lihat dia..seseorang yang ku
cintai hingga kini. Namun mungkin sudah hilang dalam cinta yang lain. Saat itu
di hari pensucian, semua masyarakat Desa Lora beramai-ramai menuju Danau Putih.
Hari tersebut dirayakan satu kali dalam satu tahun dimana mereka akan membasuh
muka dan memohon ampun atas semua kesalahan-kesalahan yang pernah diperbuat.
Mereka juga memanjatkan doa kepada para Dewa agar menjadi insan yang lebih baik lagi.
Tahun demi tahun ku selalu menemani Tuanku untuk pensucian. Tahun demi tahun
pula aku hamper mengenali semua yang berdatangan ke Danau Putih untuk
pensucian. Ada yang selalu membuat pandanganku terhenti pada satu sosok
diantara ratusan masyarakat desa. Sejak ia masih remaja hingga kini ia beranjak
dewasa. Banyak yang berubah dari fisiknya, namun ku tak akan pernah lupa akan
senyum dan candanya.
“Dewa, Kau pasti tahu apa saja
kesalahan yang ku perbuat. Tak ingin kah Engkau memberiku kesempatan untuk
membenahi?” sambil tersenyum dengan air danau yang membasahi wajahnya.
Ia selalu mengucapkan candaan itu
kepada Dewa. Dan perhatianku kepadanya hilang seketika saat Tuanku menggenggam
tanganku.
“Kelabu, apa yang ingin kau pinta
kali ini kepada Dewa?”
dengan tersenyum Tuanku bertanya.
“Tidak ada Tuanku. Permintaan Tuanku
adalah permintaan hamba juga.” Sambil ku tundukkan pandangan ke tanah.
“Kau sungguh rendah hati Kelabu.
Mari kita pulang.”
“Baik Tuanku.”
Aku melangkah meninggalkan Danau
Putih dengan sesekali mencuri pandangan kepada sosok itu. Dan aku pun tidak
sadar garis senyum tergambar di wajahku. Seharusnya aku sadar, aku hanyalah
Kelabu. Aku adalah wanita yang diambang ada dan tiada. Aku akan ada jika
seseorang menginginkanku dan aku akan hilang jika seseorang tidak
membutuhkanku. Sudah empat tahun aku mengabdi pada Tuanku Arkan. Tuan Arkan
baik padaku, namun sesekali membuatku samar hampir hilang untuknya. Ketika aku
akan menghilang, Tuan Arkan selalu memintaku kembali ada untuknya dengan
memohon pada Dewa betapa ia membutuhkanku. Anehnya, aku tak pernah lelah akan
perubahan itu walaupun sangat sakit raga ini ketika akan menghilang. Seluruh
badanku akan terasa panas dan hilang. Walau begitu, ku tetap menikmati
saat-saat bersama Tuan Arkan entah sampai kapan aku benar-benar
menghilang darinya.
ANGGARA
Ku sandarkan badan pada salah satu
daun pintu kamar sembari memandang taman kecil buatanku. Ku pejamkan mata dan
menikmati udara sore hari. Sejuk angin yang menyambut gelapnya langit,
membuatku enggan beranjak dan terus menikmatinya.
“Sayang..apa yang sedang kau lakukan
disitu?” Seorang perempuan tiba-tiba masuk ke dalam kamar dan menghampiriku.
“Oh tidak apa-apa. Hanya menikmati
hembusan angin senja.” Jawabku dengan tersenyum.
“Mengapa kau sangat menyukai
hembusan angin senja. Tak pernah kau berubah selera.” Ia menyandarkan kepalanya
di pundakku.
“Tidak ada..hanya merasa nyaman
saja.”
“Kalau begitu, mari nikmati
bersama.”
Ia adalah istriku. Perempuan yang
sudah ku nikahi 3 tahun ini. Perjalanan pernikahan kami tidaklah mudah. Dan aku
pun masih bertanya dalam hati dalam perjalanan pernikahan ini.
“Matahari sudah benar-benar turun.
Ayo kita ke ruang tengah untuk makan malam.” Ajaknya sambil menarik tanganku.
“Iya, aku akan kesana.” Ku ikuti
langkahnya menuju meja makan.
Kami makan dengan tenang. Tidak ada
obrolan sama sekali hingga masing-masing piring makan kami tiada makanan lagi.
"Apa yang akan kau lakukan
setelah ini?" Tanya istriku sambil menuangkan air ke dalam cangkir yang
akan ku minum.
"Mungkin aku akan ke perpustakaan, menghabiskan waktu
untuk membaca beberapa buku yang belum selesai ku baca. Bagaimana denganmu?"
"Emm..tidak
ada. Mungkin hanya akan menemanimu hingga bosan membaca."
"Tak perlu
kau paksakan jika kau tak menyukai membaca."
"Tidak apa,
dengan senang hati."
Kami
pun saling melempar senyum. Senyum saling menjaga, senyum yang menggambarkan
ketakutan tuk berbuat salah, senyum yang sangat berhati-hati. Sudah lama kami
tak saling melempar senyum, dan waktu itu pun aku tak dapat menyalahkan
siapa-siapa.
"Satu
langkah lagi kita akan memasuki perpustakaan. Apa kau benar ingin menemaniku
membaca nyonyaku?"
"Apa aku
terlihat main-main?" sembari tersenyum
"Tidak.
Baiklah, segera kita masuki perpustakaan."
Perpustakaan
pribadi yang ku ciptakan sendiri. Ada ribuan buku di sini hingga aku harus
membuat rak buku yang baru lagi. Tidak seperti biasa Alea mau membaca buku
denganku. Aku tak tahu apa yang sedang difikirkannya.
"Apa yang
akan kau baca?" Alea berjalan dan memilih-milih buku.
"Aku akan
meneruskan membaca buku kesehatan. Silahkan kau nikmati bacaanmu." Sambil
beranjak duduk, ku genggam buku ilmu kesehatan.
"Baiklah."
Suasana
menjadi hening. Kami berdua disibukkan oleh buku yang kami baca. Ku tengok
sebentar, Alea membaca buku memasak, mungkin ia ingin meningkatkan kemampuan
masaknya. Satu jam berlalu dan ku lihat Alea tertidur di kursi baca.
ALEA
Semua badanku terasa pegal setelah
ku buka mata. Ternyata aku tertidur ketika membaca buku di perpustakaan. Ku
lihat Anggara masih asyik membaca bukunya. Sebenarnya aku bosan, tak pernah ku
sukai kegiatan membaca ini. Entah mengapa ku hanya ingin mengikutinya tadi.
Ah..andai saja aku memilih untuk di kamar dan bersantai..
Anggara memang tidak pernah berubah.
Membaca adalah hobinya. Ketika ia mendekatiku dulu, sering ia kirimkan
buku-buku puisi tentang cinta. Sampai kami menikah pun ia selalu membacakan
puisi cinta dari beberapa buku sebelum kami terlelap. Namun itu tidak terjadi
lagi setelah kejadian waktu itu. Aku merasa sedikit berbeda namun aku tak ingin
pusingkan lagi.
"Aku rasa aku sudah cukup membaca. Bagaimana denganmu?" Ku
dekati Anggara dan mendekap bahunya dari belakang.
"Sepertinya kau kelelahan
hingga tertidur di bangku baca tadi."
"Kau bisa saja Anggara."
"Silahkan kau beristirahat di
kamar. Mungkin beberapa jam lagi aku akan selesai membaca."
"Baiklah. Aku akan menuju
kamar." Ku tinggalkan Anggara bersama ribuan buku di perpustakaan menuju
kamar. Akan belajar berdandan agar terlihat lebih sempurna lagi. Banyak orang
bilang aku sudah cantik, Anggara pun pernah mengatakannya. Namun aku merasa
masih kurang.
"Hah..andai saja saat itu semua berjalan dengan baik. Pasti aku tidak
akan merasa tertekan seperti ini. Aku dapat lebih bahagia dan mencintai
seseorang yang ku cintai." Batinku dalam hati sembari merebahkan badan
di tempat tidur. Aku hanya dapat mengucapkan dalam hati dan terus menerus
berangan.
Anggara merupakan sosok laki-laki
yang baik hati. Aku pun selalu luluh dengan kebaikannya terhadapku. Sebisa
mungkin ku balas kebaikan hatinya. Setelah kejadian besar saat itu pun, Anggara
tak menghindariku. Teringat saat dahulu ia mengejarku untuk mendekati, sangat
indah caranya. Kami bertemu di Danau Putih saat ritual pensucian. Aku dan
Anggara bersebelahan saat itu dan ia terlihat salah tingkah.
"Ee..nyonya maaf air basuhan
saya mengenai nyonya." Anggara mengusap tanganku dengan rasa bersalah.
"Tidak apa tuan, ini hanya air.
Sungguh tidak masalah." Ku ciptakan senyum agar Anggara tidak merasa
bersalah.
"Kalau begitu, siapa nama
nyonya? Maaf jika lancang, namun nyonya sungguh cantik." Kepalanya sedikit
tertunduk dengan raut muka malu.
"Alea, dan anda pasti Anggara."
"Bagaimana nyonya bisa
tahu?"
"Tuan, anda sering menjadi
bahan peebincangan para pemudi seluruh desa sekitar. Mereka bilang Tuan sangat
tampan dan ramah."
"Ah nyonya sangat berlebihan.
Apa saya memang terlihat begitu?" Kepala Anggara semakin menunduk.
"Perkataan para pemudi benar
setelah saya bertemu langsung." Aku tersenyum sekaligus kagum.
"Bagaimana jika kita pulang
berjalan bersama?"
Aku mengangguk mengiyakan dan
tersenyum. Tak ku sangka akan bertemu Anggara yang di idam-idamkan para wanita disini.
Akhirnya aku berjalan kaki bersama Anggara dalam perjalanan.
Tak lama ia
melakukan pendekatan denganku melalui caranya yang selalu menghampiriku di
setiap pagi, karena ia tahu aku akan menyirami tanaman setiap pagi. Pada
pertemuan yang ke 30 kali, ia tak sekedar berkunjung ingin melihatku namun juga
meminangku.
“Ibu senang anak
ibu kini sudah besar. Sudah akan dipinang oleh seorang perjaka gagah dan
pintar. Tolong jaga anak ibu ya nak Anggara. Ibu percayakan semua padamu.”
Tangan ibu mengerjap-ngerjap lenganku perlahan. Mungkin ibu masih belum percaya
gadis satu-satunya ini akan dipinang. Tak pula luput Ayah, yang masih
memandangku lekat-lekat sebelum gadisnya diambil lelaki lain.
“Ayah juga
berpesan padamu. Jadilah lelaki yang bertanggung jawab serta bijak dalam
memutuskan sesuatu. Dan Ayah juga ingatkan untuk kalian berdua, cinta itu masih
perihal yang dapat berubah. Namun jika keduanya bisa saling menguatkan, pasti
akan bisa dilalui bersama-sama apapun masalah yang dihadapi.”
“Iya ibu ayah,
Anggara janji akan mencintai Alea selamanya. Terimakasih atas semua pesan dan
nasehatnya.”
Pernikahan di
depan halaman rumah berlangsung dengan meriah. Aku sungguh bahagia menjadi
istri Anggara, lelaki idaman di desa ini. Aku merasa beruntung, semoga begitu
juga dengan Anggara yang merasa beruntung menjadi suamiku.
Pesta pun usai, akhirnya aku diboyong ke rumah yang
sudah dibangun Anggara untuk kami. Kami berdua terpisah oleh orangtua
masing-masing. Merajut masa depan berdua dan bermimpi segalanya berdua. Tak ada
doa lain saat itu selain keabadian cinta kami.
--------------------------------------Sejenak berhenti; Merajut Sambungan Esok-----------------------------
Agak fantasi ya, jadi berasa baca novel Tere Liye ro haha. Penasaran sama Kelabu nih. Keep on writing, ro!
BalasHapus