RAJUTAN CERBUNGKU

KELABU

“Kelabu, apa kau merasa masih enggan bercerita lagi padaku?”
Ku hentikan kakiku yang membuat pusaran pada lantai rumah Tuan Arkan. Ia sangat mengenaliku bagaima ketika ku memikirkan banyak hal yang tak tersampaikan.
“Sejak kejadian itu, kau terlihat murung. Maafkan aku Kelabu.”
“Tak apa Tuan. Sungguh.. aku tak inginkan apapun saat ini.“
Senyumku kelu. Hanya membatin beribu maaf dan rsasa bersalah. Sebenarnya aku pun tak tahu bersalah ini bertuan kepada siapa. Hanya saja tidak nyaman dengan membawa segala perasaan ini kemana pun ku berada.
“Tuan, mengapa tidak istirahat lebih awal? Sepertinya anda terlilah lelah.”
“Tak apa Kelabu, aku menunggumu terlelap saja.”
“Untuk apa Tuanku?”
“Dulu aku sering acuhkan keadaanmu yang selalu menjaga tidurku. Kau selalu menjagaku agar tetap hangat dengan menyelimuti badanku, menjagaku agar tetap tenang dan memungkinkan tidurku nyenyak hingga fajar datang. Aku selalu mementingkan diriku sendiri. Sungguh aku tak ingin mengulanginya lagi Kelabu.”
Tertegun.. aku sungguh ingin menangis mendengarnya. Andai saja bisa ku lihat matanya, ku ingin melihat apakah benar ada penyesalan padanya. Memang dahulu aku hanya seperti budak bagi Tuanku. Tak pernah ia perdulikan bagaimana ku menyayanginya dengan dibalas segala amarah dan perlakuan egoisnya. Ia tak pernah ingin tahu bagaimana keadaanku, sampai akhirnya ia mencintai seorang wanita yang membuatnya tergila-gila. Wanita itu ia temui ketika berkelana ke desa seberang. Saat itu aku tak diperbolehkan ikut karena perjalanan cukup jauh. Setelah itu, Tuanku kesana untuk beberapa kali bahkan bisa dibilang kerap. Aku merasakan ada yang berbeda karena tubuhku mulai perlahan menjelma bagai asap tipis. Dan benar saja, aku menghilang dari kehidupan Tuan Arkan.

ANGGARA

Alea sudah pulas disampingku. Wajah polosnya terlihat cantik. Namun kenapa hari itu harus terjadi, membuatku ada yang menekan segala ketulusan cinta untuk Alea yang tadinya utuh. Mungkin aku pun salah.. entah aku tak ingin membahas segalanya lagi.

Setahun lalu, Danau Putih
KELABU

“Tuanku, aku hampir menghilang.”
“Aaah, kau hanya merengek agar aku tak pergi berkelana lagi kan? Aku juga berkelana untuk kita berdua. Kau sendiri yang muncul di hadapanku tiba-tiba saat itu..”
“Aku muncul dalam kehidupanmu karena kau membutuhkan kebahagiaan dan cinta Tuanku.”
“Ya, memang saat itu aku sangat sengsara dengan perasaan yang sepi. Namun mengapa kau harus mencampuri semua urusanku juga?”
“Aku hanya bertanya Tuanku, sungguh aku tidak memaksamu untuk melakukan apapun untukku. Hanya saja apa kau masih membutuhkanku?”
“Mengapa kau tanyakan. Lihat saja bagaimana sebenarnya kini, apakah aku memang membutuhkanmu.”
Lenyap.. hilang seketika Tuan Arkan dari hadapanku. Atmosfer yang kini berbeda dari bumi, aku sudah berada di suatu tempat dimana aku berasal. Jingga langit dengan hamparan bukit hijau membuatku campur aduk.
Bukan lagi di Desa Lora. Tuan Arkan benar sungguh tak lagi di hadapanku
Aku berjalan menyusuri bukit, berharap menemukan sesuatu yang dapat menjelaskan perasaanku sekarang.

ARKAN

Ternyata tiada dusta ia berkata dan bertindak, Kelabu tak lagi dihadapanku. Aku memang tidak membuthkannya kini, aku hanya merasa sedang baik tanpa dia. Biarkan saja ku lalui dengan wanita yang buatku merasakan cinta baru..
Aku memang sangat menyedihkan saat itu, tepatnya sebelum Kelabu datang. Delapan tahun sudah kehadiran Kelabu menemani hari-hariku. Awal kehadirannya membuatku terkejut karena pada larut malam dengan tiba-tiba kabut tebal memenuhi ruangan rumah. Semakin lama kabut itu semakin menyatu membentuk sosok wanita yang sederhana dengan balutan gaun abu – abu sepanjang lutut. Kepalanya menunduk hindda rambut panjangnya menutupi wajahnya. Aku masih membisu dengan beribu tanya, siapakah sosok wanita ini. Perlahan ia mendongakkan kepalanya, matanya sendu. Wajahnya nyaris membuatku jatuh hati seketika, kecantikan yang sederhana, keanggunan yang berwibawa, tak ada tambahan polesan apapun di wajahnya.
“Salam Tuanku.” Katanya lembut dengan tersenyum.
“Ka kamu siapa?” Aku masih terbata-bata karena takjub.
“Aku Kelabu. Tuanku, jangan kau rasakan lagi risau dalam hatimu, pedih maupun sedih. Aku disini akan setia menemanimu, membuatmu bahagia Tuanku.”
“Namun, kau.. darimana kau berasal?”
“Aku berasal dari hatimu yang sepi.”
Masih tertegun menatapnya. Aku masih tidak tahu apa yang sebaiknya ku lakukan. Akhirnya ku biarkan ia di ruang tengah. Aku pun memasuki kamar berniat untuk istirahat. Mungkin ini halusinasi bagai fatamorgana di padang pasir.
Ia akan hilang setelah ini. Kelabu atau siapapun tadi pasti bukan nyata
Sembari mencoba merapatkan mata agar tertidur, ku dengar suara air mengalir dan alat-alat makan yang seperti dicuci.
Makhluk cantik apa sebenarnya Kelabu itu
Gelap dan aku pun pulas tertidur.

Ku rasakan hangat sinar matahari di punggung. Benar saja, gorden jendela kamarku sudah terbuka. Aku pun mengingat-ingat apakah semalam ku tinggalkan jendela ini dalam keadaan terbuka. Sepertinya tidak.. ku beranjak dari kasur dan berjalan ke ruang tengah. Bersih dan rapi. Bagai rumah yang baru saja dibeli, aku sendiri hampir tak mengenali rumahku. Ku langkahkan kaki menuju dapur dan ku lihat sosok wanita itu lagi, ia sedang memasak. Kepulan asap air mendidih dan aroma sedap berirama di dapur.
“Selamat pagi Tuanku. Tunggulah sejenak semua akan segera siap di atas meja makan.” Katanya lembut nan bersenyum.
Tak ku jawab. Aku berjalan menuju kamar mandi dan membasuh muka. Sepertinya ini memang bukan mimpi. Aku harus mulai menyelidiki. Mungkin saja ia hanya kesasar.
Setelah ini mulailah bicara. Tanyakan siapa dia, apa tujuannya, mengapa ia bisa kemari. Oke, jangan terlihat seperti orang lemah.
Setelah bergeming di kaca, aku beranikan untuk berbicara padanya tanpa gugup. Ku berjalan kembali ke dapur. Di atas meja makan sudah tertata nasi, sayur dan lauk yang selama ini hanya jadi pajangan mentah di dapur. Air hangat yang ku teguk hanya saat ku sempat memasak air kini sudah ada di dalam cangkir putih. Ku urungkan niat untuk berbicara saat ini, lebih baik seusai makan. Ku duduk dan langsung melahap hidangan yang ia sajikan. Nikmat.. semuanya pas. Lidah ini seakan rindu makanan tersaji hangat dengan rasa rempah yang pekat. Ku sisakan sebagian untuknya yang sedang duduk di hadapanku. Setelah merasa cukup, ku minum air hangat di cangkir. Lagi.. kenikmatan yang sudah hampir tak pernah ku rasakan.
“Tuanku kau terlihat lahap dan cepat menghabiskan seakan waktu akan mengambil semua kenikmatan ini.”
“Tidak.. aku hanya merindukan semua ini. Terimakasih.....”
“Kelabu. Ingatlah namaku, kelabu.”
“Ya, kelabu. Ada yang ingin aku tanyakan. Sebenarnya siapakah kamu? Maksudku, kamu ini makhluk apa? Bagaimana kau bisa datang? Dan darimanakah kau berasal?”
“Semua pertanyaan dasarmu itu sudah ku jawab semalam Tuanku. Setelah ini kita akan melakukan apa?”
Kenapa.. kenapa aku tidak lagi merasa perlu menanyakan apapun yang ingin ku tanyakan tadi. Aku benar-benar merasa cukup dengan ini. Baiklah, ku ubah saja niatku.. belajar membiasakannya ada disini.
“Tuan?”
“Ya?”
“Apa yang kau lamunkan?”
“Tidak ada. Kau ingin menemaniku ke ladang?”
“Dengan senang hati Tuanku.”
Sejak itu, ku mulai hari – hariku bersama Kelabu. Sedih, senang, susah semua perasaan dan keadaan sudah kami jalani bersama. Aku memang jatuh hati pada Kelabu. Namun tak pernah ku tanyakan bagaimana perasaannya padaku. Aku hanya ingin terus bersamanya saat itu. Namun ku salah, ternyata keinginanku bisa pudar dengan datangnya sosok nyata wanita yang ku temui di desa seberang.

ANGGARA

“Mengapa kau lakukan ini semua Alea?”
“Aku sudah bosan dengan semuanya. Aku lelah menutupi semua kebosananku dengan tersenyum padamu setiap hari. Hatiku tertekan Anggara.”
“Tapi mengapa harus begini caranya? Apakah kau benar sudah tidak ingin kita bersama?”
“Cukup.. jangan salahkan aku saja. Coba kau juga pandang dirimu sendiri bagaimana bisa ku mencintai orang lain ketika sudah jelas kita bersama selama satu tahun.”
“Apa? Aku tidak merasa menyakitimu bahkan melukaimu. Sedikitpun tidak pernah Alea. Sekarang, apa maumu?”
“Tolong biarkan aku pergi dengannya.”
“Ia sahabatku Alea. Aku sangat kenal ia betul. Ia memang laki-laki yang baik. Mengapa kau sampai hati mendekatinya dan membuatkanku jarak dengannya?”
“Kau hanya tidak mengerti Anggara. Ia yang selalu ada ketika kau tak mendengarku. Aku hanya ingin berpergian seperti yang lain. Dan Ia selalu bersedia mendengarkan ceritaku, mengajakku pergi.”
“Silahkan.. pergilah. Aku sangat tidak menginginkan ini. Namun jika rasamu padaku sudah benar tidak ada dan kau sudah tak ingin lagi mempertahankan.. pergilah.”
“Jangan seakan aku yang salah Anggara.”
“Kau tak pernah memberitahu apapun padaku Alea. Kau pun hanya sibuk dengan dirimu sendiri.”
“CUKUP! Kau terlalu baik sehingga aku malas berdebat denganmu. Aku pamit”
Bayangnya semakin menjauhi rumah dan hilang. Sesak, ternyata begini rasanya. Bagaikan hipotermia akut. Semua campur aduk. Ku rasa jantungku pun mengalun dengan tidak baik. Alea, istri yang ku persunting setahun yang lalu.. ia pergi meninggalkanku dengan semua perasaanku yang besar untuknya. Sungguh aku tidak memiliki rencana atas ini. Apakah para Dewa menyatukan perasaan untuk dipisahkan sesakit ini?

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

EXPLANATION TEXT

you are the apple of my eye

DISCUSSION TEXT